Ayah
Kau lah pangeran dalam hidupku
Kaulah laki-laki yang paling mengerti keadaanku
Kaulah yang selalu menjagaku dengan paruh waktumu
Waktu yang terus berpacu dengan cepat
Langkah tegap memburu waktu
Gelap melanda dirimu sudah hilang
Pergi saat diriku terlelap dan kembali pula diriku pun sudah
terlelap
Cucuran keringat yang membahasahimu, tak pernah sebanding
dengan diriku yang hanya berusaha diam mendoakanmu dari jauh.
Menuntut ilmu setinggi yang ayah dan aku mimpikan, itu tak
sebanding dengan lelahnya dirimu.
Jasamu tak lekang oleh waktu
Keriput yang ada bukanlah kendala untukmu
Lelah yang selalu menghampiri
Tapi apa pernah kau berharap pamrih ?
Tidak kau bukan seperti itu.
Kau banting tulang karena ingin melihat kami seperti yang
ayah banggakan.
Ayah,
Ayah,
Terima kasih kau memberikan segala cinta dan waktumu untuk
kami.
Terima kasih Ayah kau mengajari kami dalam mengerti kami
harus hidup nantinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar