Kamis, 12 Mei 2016
Mimpi senjaku
Aku menghilang selama beberapa hari dari segala urusan duniawi.
Menyibukkan diri dengan berlembar-lembar buku bacaan dan mengurung diri
di kamar, tanpa mengaktifkan telpon seluler sedikitpun. Berusaha
menghindari keingintahuanku akan dirimu. Iya, lagi-lagi penyebabnya itu
kamu. Setelah emosi yang ku urai padamu beberapa waktu lalu itu, aku
merasa bahwa pantas saja kamu tak ingin bersamaku. Ternyata aku belum
sebaik kamu, belum sesabar kamu, bahkan belum sedewasa kamu. Aku masih
terlalu kekanak-kanakan. Masih terlalu mudah tersulut emosi. Malam ini,
ketika aku menuliskan ini aku teringat akan hal yang pernah kita
bicarakan dulu sewaktu masih bersama. ‘Kamu tinggal pilih mau aku peluk
atau aku gendong sambil berputar-putar di pantai dan menikmati sunrise
bersama?’ Kala itu, aku hanya tersipu mendengar kata-katamu. Tapi kini,
ketika memori itu terbuka lagi, aku hanya mampu menitikkan airmata.
Lihatkan? Betapa kekanak-kanakannya aku. Jika saja kita masih bersama.
Jika saja kita masih menjalani semuanya. Dan jika saja kamu mengulang
tanyamu itu. Aku pasti akan segera mungkin menjawabnya dengan, ‘Aku tak
ingin apa-apa, aku tak ingin memilih keduanya. Tapi, yang aku mau hanya
menikmati sunset bersama kamu. Karena aku tak hanya ingin membuka hari
bersamamu, tapi aku ingin menutup hari dan membangun mimpi untuk hari
esok bersamamu juga.’ Pendingin ruangan ternyata tak mampu membekukan
tangisku. Nyatanya sekarang ia pecah sejadi-jadinya mengenang itu semua.
Menyayangkan segala sesuatu yang telah terjadi. Meratapi hal yang tak
mampu berakhir indah. Kamu tahu? Bahkan pemutar musik pun tiba-tiba saja
mendendangkan lagu yang membuatku semakin merindukanmu. Sejak saat kau
terbang menjauh dariku. Ku hadapi datangnya rindu menyakiti. Dengan
gagahku kan selalu menjaga hati ini. Hingga nanti kau kembali. Takkan
pernah kan terkikis setia ini. Meskipun kita harus terpisah dan kau tlah
jauh di sana. Takkan hilang sabarku untuk menanti. Dirimu tuk kembali
bersama semua rindumu disana. Dan mewarnai lagi redup hati ini yang
lelah menanti. Selalu ku tunggu pesanmu datang untukku. Sedikit meredam
sakit rindu yang semakin dalam. Ku selalu bermimpi bahwa engkau di sini.
Bahagiakan hati ini yang telah sabar menanti. Sampai nanti kau kembali.
Aku terkenang ketika dini hari tadi aku terbangun hanya karena
memimpikanmu, harusnya menjadi bunga tidur saja bukan? Tapi, entahlah
semuanya masih membekas dalam ingatanku. Namun, aku semakin menguatkan
namamu dalam do’a ku. Aku heran dengan semuanya. Heran dengan hal apa
yang telah kau perbuat sehingga aku begitu susah melepaskanmu. Heran
dengan hal apa yang membuatku enggan mengikhlaskanmu. Ah! Yang aku tahu,
aku hanya ingin melihat senja bersamamu. Melihat senja yang
menggantikan langit biru yang kusukai berganti menjadi semburat jingga
lalu bermandikan pekat hitam yang sesekali diselimuti taburan bintang.
Aku tak akan pernah takut akan langit yang menghitam itu. Karena,
disampingku ada kamu, biru langitku! Biru langit dengan matanya yang
meneduhkan. Selamat menikmati kesukaanmu hari ini tuan :)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Waktu Tidur Yang Baik maupun Kurang Baik (HAILULAH, QAILULAH & 'AILULAH)
Apakah yang dimaksud dengan TIDUR HAILULAH, QAILULAH & 'AILULAH? 1.Tidur HAILULAH : Tidur yg menghalangi rizqi 2.Tidur QOILU...
-
Ya, kau datang merubah segalanya. Namun caramu pergi, lebih merubah segalanya. Aku ucapkan terimakasih karena kau pernah hadir di hidupku. L...
-
Ketika ku sendiri Menangis sedu Terlarut dalam kesedihan dan sakit yang membekas Tak kuasa lagi jiwa ini menahan semuanya sendiri Ku...
-
Aku berani bermimpi besar karena mimpi-mimpi kecilku mulai bersemai. Jangan malu selama kamu bisa, Jangan sedih saat kamu jatuh, Tapi ter...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar